Widget HTML #1

Ziarah dan Wisata Alam: Mengunjungi Makam Mbah Mad Watucongol dan Menginap di Getasan Kopeng

Lapangan voli Dusun Kalideres Batur Getasan
 


Tepat  Sabtu 10 Februari  2024 bertepatan dengan hari Imlek  , teman-teman Jamda ( Jamaah Dadakan ) ziarah ke Gunung Pring Magelang.  Jamda adalah komunitas anak muda salah satu  kegiatan ngaji tiap malam senin dan ziarah  . Posisi saya disini sebagai peserta ziarah saja. 


Gunung Pring Muntilan

Adapun rencana  ziarah ke makam Mbah Mad dan Mbah Dalhar Watu Congol Muntilan. Sesudah itu dilanjutkan dengan menginap di rumah Mas Arif Rifai ( Kepala Sekolah MI Gedang Anak ) di desa Batur Getasan. 


Perjalanan dimulai pukul 19.00 dan sampai di Gunung Pring pukul 21.00. Tujuan pertama adalah di makam Santren Mbah Mad letaknya dekat Ponpes Darussalam Magelang. Sebelum ziarah kita solat isya dulu di masjid Krapyak . Suasana makam Santren   terhitung ramai karena peziarah sudah memadati makam. 


Agenda teman-teman Jamda ziarah ke makam ulama tujuannya salah satu  mengingat  jasa para ulama dahulu serta tak lupa mengingatkan kematian. Ada tradisi ziarah ke makam orang tua dan ulama menjelang bulan ramadhan. Kegiatan ini upaya untuk menjaga tradisi itu dan tak lain meningkatkan kesadaran selalu beriman kepada Allah SWT. 


Pada ziarah kedua kemakam Mbah Dalhar yang jarak tidak terlalu jauh dari makam Mbah Mad. Makam Aulia Gunung Pring adalah komplek makam raja-raja Mataram Islam dari masa hingga ke masa. Salah satu tokoh termasyur Kyai Raden Santri atau  Pengeran Singosari merupakan bagian keluarga  kerajaan Mataram Islam .  Kyai Raden Santri adalah saudara Panembahan Senopati merupakan raja pertama kerajaan Mataram Islam pusat di Kota Gede Jogjakarta.


Makam Gunung Pring tak pernah sepi dari pengunjung, bukti hingga dini hari para peziarah masih terus berdatangan baik dengan menggunakan mobil pribadi maupun  bus.  Di sekitar area parkir masih ramai aktivitas para pedagang dan tukang parkir masih sibuk mengatur kedatangan dan kepergian kendaraan peziarah. 


Para aulia dimakam di sini   adalah; Kyai Raden Santri, Kyai Krapayak III/Kamaludin, Kyai H. Harun, Nyai Hj. Harun, Anak-anak Kyai-Nyai Harun, Kyai Qowaid Abdullah Sajad, Kyai Gus Jogo Rekso, Nyai Hj. Suratinah Jogo Rekso, Kyai Kerto Jani, Kyai Abdurrachman, Kyai H. Dalhar, dan Kyai Chusain. Tokoh-tokoh tersebut menempati bangunan utama di sebelah timur pada posisi puncak bukit.


Tepat dini hari melanjutkan perjalan menuju Getasan. Perjalanan dari Muntilan ke Kopeng Getasan di tempuh dalam waktu 1 jam perjalanan.  Perjalanan melewati jalur Magelang Kopeng tepat melintasi tempat wisata Ketep. Jalan berkelok - kelok berkabut, penerangan jalan yang minim menjadi perjalanan tetap santai. 


Nginap di lereng Merbabu

Hening, dingin dan berkabut itulah kali pertama sampai di dusun Kalideres Batur Getasan. Ketika kaki menapak lantai langsung kaget saking anyepnya. Kasur mini dan bantal di tata rapi, ada PS 3 di ruang tengah. Melihat dapur sudah disediakan kopi teh, cemilan dan sangat-sangat berkesan banget. Padahal teman sudah menyiapkan tempat bakaran serta ugo rampene.


Eman-eman pada langsung tidur, selanjutnya bakaran makanan ala korea street food yang cukup populer akhir-akhir ini. Ternyata alat membakar menyewa sedangkan bahan makanan seperti daging sapi, ayam , bakso dan lainnya beli sendiri. 

Rumah pascapanen holtikultura


Di depan teras rumah teman-teman melakukan ritual  bakaran sedangkan   di ruang tengah pada main PS. Di ruang dapur menikmati keheningan malam diselingi obrolan santai sesantai hati dan pikiran kali ini. Nanti tetap pusing lagi. 


Pagi yang indah hujan tidak terlalu deras saya menyempatkan  jalan-jalan area  dusun Kalideres. Di ujung jalan  ada rumah pascapanen holtikultura  bantuan dari Kementan. Kita bertemu warga berangkat  Di pojok desa ada lapangan voli yang viewnya langsung ke Puncak Telomoyo. Warga selalu bertegur sapa dengan nada ramah " monggo mas mampir ". 


Saya membeli bubur di warung dekat pertigaan jalan. Dan penjual bertanya " Mas kuliah di mana ". Saya kaget dikira anak kuliahan. Spontan saja menjawab " tidak kuliah, ini cuma  menginap di rumah mas Arif Rifai " . Tiba Si mbak yang bareng  beli bubur bilang " Oh mas arif guru itu. 


Ibu penjual sempat kebingungan karena  beli  bubur di pincuk daun pisang.  Ternyata  kesulitan dalam melipat duan pisang untuk dijadikan tempat bubur . Walaupun dengan beberapa kali percobaan jadi juga.  Menu bubur sederhana cuma tambah sayur dan gorengan tanpa ada sambal kacang, tetapi moment  mengingatkan masa kecil di desa ketika minggu pagi beli bubur dengan di pincuk bersendokan daun pisang.  


Kata Iwan Fals dalam penggalan  lirik lagu berjudul  "Desa "


Desa adalah kenyataan

Kota adalah pertumbuhan

Desa dan kota tak terpisahkan

Tapi desa harus diutamakan


Desa merupakan soko guru dalam kedaulatan suatu negera.  Desa merupakan kekuatan utama dalam menopang pangan suatu negara. Jika di Desa para petani sudah tidak mau bertani lagi dampak negera mencari pangan ke negera lain. Ujung-ujungnya impor pangan. Semoga desa dan petani tetap dirawat oleh negara dengan kebijakan memanusiaknnya. 




Lihat Videonya di Youtube

Posting Komentar untuk "Ziarah dan Wisata Alam: Mengunjungi Makam Mbah Mad Watucongol dan Menginap di Getasan Kopeng"