Widget HTML #1

50 Puisi Karya Budi Maryono



"Pada dasarnya, menulis itu berbagi kebaikan, bukan berbagi keburukan, apalagi fitnah dan nyinyiran...".

Itu Status FB pak Budi Maryono dalam unggahan foto workshop "Menulis Puisi dengan Hati". Saya tertarik mengikuti workshop ini memang karena betul-betul bagaimana sih cara menulis puisi yang bagus itu.

Saya mengetahui  Pak Budi Maryono  merupakan salah satu  penggiat gambang syafaat yang acaranya  diadakan tiap tanggal 25 tiap bulan di masjid Baiturahman Semarang. Gambang Syafaat sendiri sebuah forum diskusi sederhana tanpa sekat antara narasumber dan audiennya.

Workshop diadakan pada sabtu 23 Februari 2019 di Gedung Perpusda Kabupaten Semarang ,  bekerja sama dengan Warung Pasinaon Kec Bergas dengan ketua Bu Tirta. Acara di mulai pukul 13.00 sampai 15.00. Dan kebetulan waktu peserta sudah full. Banyak peserta berasal dari luar daerah dan kebanyakan dari kalangan guru SMA. Motivasi peserta mengikuti workshop ini macam-macam. Untuk guru SMA membuat karya tulis ilmiah berkaitan kenaikan pangkat. Dari kalangan umum memang kepingin tahu cara menulis puisi yang baik.

Workshop menulis puisi


Yang saya ingat dari workshop menulis puisi adalah dasar kita menulis biasa seperti mengarang cerita. Hasil karangan nanti kita pilah kata-kata yang cocok kita hapus dan rangkai lagi menjadi satu kesatuan. Pada dasar  belajar menulis puisi  seperti anak SD yang awal kata-kata masih campur aduk. Lambat laun akan tambah perbendaharaan kata-kata menjadikan kalimat terstruktur dengan baik. Itu masih saya ingat tapi sepertinya belum saya praktikan.

Sudah satu tahun lebih workshop itu tapi sampai saat ini belum mencoba membuat puisi.  Setidakny saya masih menyimpan kumpulan  buku puisi "Kuseduh Rindu Suam Kuku. Untukmu" sebagai simpanan energi untuk menulis puisi dikemudian hari.

Ini saya ambil 2 puisi dari dari   "Kuseduh Rindu Suam Kuku. Untukmu" kumpulan puisi karya Budi Maryono.

Keasyikan yang Candu
Budi Maryono.

aku tahu
kau tak ada
di balik rerimbun perdu
tapi tetap kucari kau disitu
sebab mencarimu
keasyikan yang candu

aku tahu
di sungai mana
kaualirkan cinta
sebab menunggumu
keasyikan yang candu

aku tahu
kau sering sembunyi
dalam lemari tak terkunci
tapi hanya kupandangi
sebab memandangimu
pun keasyikan yang candu



Semua Telah Mengendap
Budi Maryono.

Datanglah ke sini suatu kali.
Kutemani kau minum kopi
sampai pagi.Tentu saja tanpa gula
sebab ia seteru rasa.

Kita akan melewati malam
dengan cerita cinta tak biasa :
sepasang pengantin sepaka berpisah
pada malam pertama

tak ada benci,
duka apalagi.

Semua telah mengendap
bersamaampas di dasar gelas

Kemudian kita sesap. Tanpa sisa