NOVEL HIDDEN SIDE OF A SHINDEN KISAH KEHIDUPAN PESINDEN
Buku Hidden Side of A Shinden Novel ini mengangkat latar budaya Jawa sebagai wadah terjadinya konflik. “Para Priyayi” karangan Umar Kayam memiliki alur cerita yang rumit, berat bagi orang awam namun logis juga.
Buku Hidden Side of A Shinden ini menceritakan tentang kehidupan seorang wanita Jawa yang berasal dari sebuah dusun. Ia dibentuk oleh lingkungan dengan pola pikir yang njawani (khas Jawa), mulai dari Ayahnya, Simbahnya (nenek), Ibu Tirinya, sampai pada keluarga besar, puak dan lingkungannya. Kungkungan pola pikir ini amat jender, seperi misalnya: wanita tidak punya hak pilih dalam jodoh, wanita berorientasi pada pengabdian, wanita tidak boleh berbicara mengungkapkan pendapat, wanita tempatnya hanya di dapur dan kasur, dll. Pria didudukkan pada posisi super dalam pengambilan keputusan sedangkan wanita hanya menurut saja ( Sendiko Dawuh ). Apa yang disabdakannya pasti benar dan wajib diterima.
Kungkungan pola pikir ini membawa sang tokoh bernama Sayem alias Slumpring sebagai seorang Sindhen untuk mengakhiri dua pernikahannya secara tragis alur hidup tokoh ini tidak akan jauh berbeda dengan takdir yang dijalani berjuta wanita Jawa lainnya. Dipersunting, melahirkan anak, mengurus dapur, dan mengabdikan diri sepenuhnya bagi para suami. Semua itu dijalani tanpa adanya pengakuan dari dunia bahwa wanita adalah seorang manusia. Wanita tak pernah dianggap sebagai seorang manusia secara utuh. Seorang manusia yang memiliki cara berpikir yang unik. Seorang manusia yang memiliki perasaan. Semua dikebiri dengan kata-kata kekangkangan khas Jawa seperti: ora ilok, ora pantes cah wadon kaya ngono kuwi, dst.
Kungkungan pola pikir ini juga dibenturkan dengan kemiskinan. Sebuah benturan yang benar-benar menimbulkan posisi yang sulit bagi pelaku wanita. Pilihan apapun yang ia ambil tidak membawanya ke kehidupan yang lebih baik . Keberaniannya mengambil profesi tersebut lebih banyak disebabkan oleh dorongan mendobrak kungkungan yang ada.
Profesi Sindhen dalam perkembangan mulai memuncukan titik negative dengan istilah wanita saweran. Pendobrakan itu tidak didasari pemikiran yang mendalam. Apalagi pemahaman agama pun bisa dikatakan kurang yang akhirnya menimbulkan kesan negatif walaopun tidak semuanya.
